Perbedaan antara Emiten, Perusahaan Publik, dan Perusahaan Tertutup

Perbedaan Antara Emiten, Perusahaan Publik, dan Perusahaan Tertutup

Menurut Otoritas Jasa Keuangan (OJK), pengertian emiten adalah pihak yang melakukan penawaran dengan menerbitkan dan menjual efek (obligasi, saham, maupun surat berharga lainnya) kepada publik untuk mendapatkan tambahan modal sesuai dengan tata cara yang telah diatur dalam peraturan undang-undang yang berlaku.

Emiten bisa berupa persero, perusahaan swasta (baik itu perusahaan terbuka ataupun perusahaan tertutup), usaha bersama, asosiasi, atau kelompok yang terorganisasi. Kebanyakan emiten memang berstatus sebagai badan usaha, namun tidak semua perusahaan bisa disebut sebagai emiten. Hanya perusahaan yang memperjualbelikan saham dan obligasinya di bursa efek saja yang bisa menyandang istilah tersebut.

Setiap perusahaan yang mendaftarkan dirinya sebagai emiten di Bursa Efek Jakarta selaku pasar modal biasanya akan memiliki kode saham. Salah satu contohnya yaitu, PT Bank Central Asia Tbk dengan kode saham BBCA.

Perbedaan antara Emiten, Perusahaan Publik, dan Perusahaan Tertutup

Karena kebanyakan emiten merupakan badan usaha, maka banyak yang beranggapan jika emiten adalah perusahaan publik. Lantas, apa yang membedakan antara keduanya?

Banyak yang beranggapan jika istilah emiten dan perusahaan publik (perusahaan terbuka) bermakna sama. Padahal, keduanya berbeda. Seperti penjelasan sebelumnya, emiten bukan hanya mengacu pada perusahaan publik saja. Pihak lain seperti usaha bersama, asosiasi, atau kelompok yang terorganisasi bisa menyandang status ini.

Di sisi lain, perusahaan publik sudah pasti bagian dari emiten. Lalu, bagaimana dengan perusahaan tertutup? Apakah bisa menjadi emiten? Tentu saja bisa, lalu apa perbedaan antara emiten perusahaan publik dengan emiten perusahaan tertutup?

Seperti penjelasan sebelumnya, syarat untuk menjadi emiten tentunya perusahaan tersebut harus menjual efek seperti saham, obligasi, maupun surat berharga lainnya kepada khalayak publik. Kebanyakan efek yang beredar memang dalam bentuk saham ataupun obligasi. Lantas, apa membedakan antara kedua jenis perusahaan tersebut jika melihat statusnya sebagai emiten?

Hal yang mendasari yaitu, jika pada perusahaan publik mereka dapat menjual efek dalam bentuk saham ataupun dalam bentuk saham dan obligasi, namun tidak dengan obligasinya saja. Sebaliknya, perusahaan tertutup tidak keduanya, mereka hanya menjual efek obligasi saja.

Berbicara soal efek dalam bentuk saham atau obligasi tentunya juga bersinggungan dengan dua istilah permodalan, yaitu debt financing dan equity financing.

Apa itu debt financing dan equity financing?

Debt financing

Debt financing merupakan bentuk pendanaan perusahaan melalui mekanisme hutang. Penguatan modal melalui cara ini menjadi salah satu alasan kuat sebuah perusahaan menerbitkan efek. Utang atau debt ini merupakan modal asing yang bisa didapatkan melalui mekanisme penjualan efek obligasi.

Penjelasan mudahnya, perusahaan mengumpulkan dana dengan cara meminjam modal dari masyarakat yang kemudian dana tersebut dialokasikan untuk kegiatan operasional dengan surat berharga sebagai jaminannya.

Equity financing

Equity financing bisa diartikan sebagai bentuk penawaran dari hak kepemilikan perusahaan kepada para investor yang tertarik menanamkan modalnya. Pendanaan ini sekilas memang lebih menguntungkan, karena perusahaan bisa mendapatkan dana segar tanpa perlu mengembalikan uang ataupun memberikan bunga yang diberikan oleh investor.

Lantas, apa yang didapat oleh investor? Tentunya mereka akan mendapat kepemilikan perusahaan tersebut dalam bentuk saham. Nilainya pun akan disesuaikan dengan dana yang mereka keluarkan.

Syarat-syarat perusahaan menjadi emiten

Sulitkah sebuah perusahaan menjadi emiten? Jawabannya, iya. Syarat-syarat yang harus dipenuhi pun cukup ketat dan selektif. Apa sajakah itu?

Pihak perusahaan harus menerbitkan efek yang akan ditawarkan kepada para investor untuk mendapatkan modal. Efek yang diterbitkannya harus sah secara hukum. Poin ini secara tidak langsung juga menekankan jika emiten tersebut harus memiliki prestasi dan tidak cacat hukum.

Emiten akan berperan sebagai sumber informasi utama tentang efek yang diperjualbelikan tersebut. Hal ini dilakukan agar keakuratan informasi dari emiten tersebut sepenuhnya akan menjadi tanggung jawab emiten yang bersangkutan.

Tujuan perusahaan menjadi emiten

Mengapa banyak perusahaan ingin menjadi emiten? Setiap perusahaan tentu ingin mengembangkan sayap bisnis selebar-lebarnya. Namun, semua itu dapat terealisasi dengan dukungan modal yang tidak sedikit. Beberapa tujuan tersebut adalah sebagai berikut:

Untuk memperluas bidang usaha, sehingga dana atau suntikan modal tersebut akan digunakan untuk perluasan usaha, perluasan pasar, peningkatan kapasitas produksi, atau pengembangan lainnya.

Perusahaan ingin memperbaiki struktur modal dengan menyeimbangkan antara modal sendiri dengan modal asing. Pengalihan pemegang saham dari pemegang lama ke pemegang baru.

Nah, itulah penjelasan mengenai perbedaan antara emiten, perusahaan publik, dan perusahaan tertutup. Jika kamu tertarik ingin berinvestasi melalui instrumen saham, wajib untuk kamu mempelajari terlebih dahulu fundamental dari setiap emiten tersebut.

Pastikan juga kamu tetap update terhadap berita-berita penting dari setiap emiten dan kondisi pasar saat ini. Sebab, setiap news yang datang, bisa mengubah kondisi pasar dengan sangat cepat. Semoga bermanfaat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *